Tampilkan postingan dengan label kisah tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah tauladan. Tampilkan semua postingan

Senin, Desember 07, 2015

Kisah Syaitan Membantu Pemuda Ke Mesjid

Seorang pemuda bangun awal pagi untuk shalat subuh di Masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan menuju masjid, pemuda tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.

Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu lagi dan berjalan menuju masjid .

Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama! Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid , dia bertemu seorang lelaki yang memegang lampu.
Dia menanyakan identitas lelaki tersebut. Lelaki itu menjawab, “Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda..’
Pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid .

Ketika sampai di masjid, si pemuda bertanya kepada lelaki yang membawa lampu, mengapa tidak masuk dan shalat subuh bersamanya?” Lelaki itu menolak. Pemuda itu mengajak lagi hingga berkali kali dan jawabannya tetap sama.
Pemuda bertanya, “Kenapa menolak untuk masuk masjid dan ikut shalat?” .
Lelaki itu menjawab, “Karena aku adalah Iblis.”
Pemuda itu terkejut mendengar jawaban lelaki itu.

Syaitan kemudian menjelaskan: Saya melihat kamu berjalan ke masjid dan sayalah yang membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah untuk membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa dosamu.

Saya membuatmu jatuh kali kedua, dan itupun tidak membuatmu berubah pikiran untuk tinggal di rumah, kamu tetap memutuskan kembali masjid. .
Karena itu, Allah memaafkan dosa-dosa seluruh anggota keluargamu.

Saya kuatir, jika saya membuat kamu jatuh untuk kali ketiga, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa seluruh penduduk kampungmu. Jadi, saya mesti memastikan bahwa kamu sampai di masjid dengan selamat.


http://duniajilbab.co.id/artikel-islami/syaitan-membantu-pemuda-ke-masjid/

Jumat, Oktober 05, 2012

Kisah Pemuda Al Miski



Ada seorang pemuda yang perkerjaannya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini dikenal dengan nama "Faraqna" oleh orang-orang. Walaupun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sa-ngat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pasti menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya: "faraqna-faraqna", tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatnya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersila-kan masuk ke dalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta yang begitu besar dalam hatinya. Lalu si wanita ini berkata: "Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu, tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan di rumah ini sekarang sedang kosong."

Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat 'sesuatu' dengan dirinya. Pemuda itu menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menakut-nakutinya dengan azab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasihat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita menjadi tambah ber-hasrat.

Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang...

Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: "Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku akan berteriak kepada semua orang dan aku akan katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku."

Setelah si pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memaksanya untuk mengikuti keinginan-nya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: "Baiklah, tapi apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu?" Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa ke-inginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab: "Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus."

Kemudian masuklah si pemuda ke kamar mandi, semen-tara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perang-kap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan akan menjadi pihak ketiga. "Ya Alah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, wahai Dzat yang dapat memberi petunjuk bagi orang-orang yang kebingungan."

Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya. "Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: 'Aku takut kepada Allah.' Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik... dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan melahirkan penyesalan seumur hidup... Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku... Tidak... tidak ... Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram... Tetapi, apa yang harus aku kerjakan?

Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu, aku akan mengolesi tubuhku dengan kotoran-kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam keadaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi." Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubuhnya dengan kotoran-kotoran yang ada di situ.

Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: "Ya Rabbi, hai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku 'kebaikan' sebagai gantinya." Kemudian dia keluar dari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak: "Keluar kau, hai orang gila!" Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang yang di jalan tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba di rumahnya, di situ dia bernafas lega. Lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi? Adakah Allah akan mem-biarkan hamba dan waliNya begitu saja?

Tidak... Ternyata, ketika dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia mendapat julukan "al-miski" (yang harum seperti kasturi).
Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari bau kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda ini meninggal dan dikuburkan, mereka tulis di atas kuburannya "Ini kuburan Al-Misky", dan banyak orang yang menziarahinya.


http://sejukkan-iman.blogspot.com/2011/01/kisah-al-miski-yang-di-karuniai-tubuh.html

Selasa, September 25, 2012

Kisah Pemuda Jujur


Seorang lelaki yang soleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lazat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meninta dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah ku makan ini.”Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku kerana tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Kerana itu mahukah tuan menghalalkan apa yang sudah ku makan itu?”

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu kerana takut ia tidak dapat memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah kerana hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?”
Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berfikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak boleh menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkahwinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya kerana aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkahwinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, kerana bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu”alaikum…”

Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut kerana wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahawa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berfikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahawa engkau buta. Mengapa?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahawa engkau tuli, mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah mahu mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah.

Ayahku juga mengatakan kepadamu bahawa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu kerana dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh kerana kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang boleh menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat soleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang isterinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan isterinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikurniakan seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia, Beliau adalah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

http://www.akhwatmuslimah.com/2011/12/564/kisah-pemuda-yang-menikahi-wanita-buta-tuli-bisu-dan-lumpuh/

Minggu, September 09, 2012

Kisah Setan Menjerumuskan Ahli Ibadah Melalui Wanita


 Wanita adalah perhiasan dunia yang sangat indah di mata laki-laki. Saking indahnya banyak laki-laki yang terpedaya, ketika wanita berhasil dijadikan anak panah oleh Setan untuk menargetk
an sasarannya sekalipun ia seorang yang shalih. Bagaimana seorang yang shalih yang ahli ibadah bisa tertipu oleh tipu daya Setan hanya dengan wanita? Padahal ia orang yang sering berdzikir kepada Allah.

Sa'id bin Al-Musayyab radhiyallahu anhu pernah berkata, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan Iblis, yang merusaknya melalui perantara seorang wanita."

Dan dari hasan bin Shalih, dia berkata, "Aku pernah mendengar setan berkata kepada wanita, "Engkau adalah separuh pasukanku, engkau adalah anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku membutuhkan."

Kisah ini diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih radhiyallahu 'anhu. Ada seorang ahli ibadah di kalangan bani israel. Dia adalah orang yang paling tekun beribadah pada zamannya. Pada saat itu ada tiga orang laki laki bersaudara yang memiliki satu saudari lagi, seorang gadis. Ketika mereka hendak pergi untuk ikut dalam perngiriman satuan pasukan, mereka tidak tahu siapa yang akan menjaga dan melindungi saudari mereka, dan kepada siapa dia akan dititipkan. Maka mereka sepakat untuk menitipkan saudari mereka kepada laki laki ahli ibadah di kalangan Bani Israel. Dengan penuh keyakinan mereka mendatangi ahli ibadah itu dan memintanya untuk sudi dititipi saudari mereka, yang berarti saudari mereka itu harus menetap di tempat ahli ibadah dan dalam lindungannya hingga mereka kembali dari peperangan. Namun ahli ibadah menolak permintaan mereka dan dia berlindung kepada Allah dari keberadaan saudari mereka. Mereka terus mendesak ahli ibadah itu hingga akhirnya dia berkenan. Ahli ibadah itu berkata, "Suruhlah dia menginap di sebuah bilik di lantai bawah biaraku."

Maka mereka menempatkan saudarinya di bilik yang dimaksudkan kemudian mereka meninggalkannya. Dengan begitu, gadis tersebut berada di tempat ahli ibadah untuk sekian lama, yang selama itu pula ahli ibadah turun dari biaranya untuk memberikan makanan kepada sang gadis. Dia meletakkan makanan di dekat pintu biara, kemudian menutupnya kembali lalu naik ke lantai atas dalam biaranya. Setelah itu sang gadis keluar dari biliknya untuk mengambil makanan yang sudah diletakkan ahli ibadah.

Setan cukup sabar menghadapi ahli ibadah itu dan senantiasa membuatnya senang melakukan kebaikan, sambil membesar besarkan masalah jika gadis itu keluar pada siang hari dan menakut nakutinya andaikan ada orang lain yang melihat keberadaan gadis itu di biaranya. Maka setan menambahi tipu muslihatnya dengan berkata, "Andaikan engkau mau berjalan ketika membawa makanannya , lalu engkau meletakkannya didepan biliknya, tentu pahalamu semakin bertambah besar."

Setan terus menerus membujuknya hingga dia mau berjalan mendekati bilik gadis dan meletakkan makanannya di depan pintunya, tanpa berbicara sedikitpun. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.

Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan menganjurkannya kepada suatu kebaikan, seraya berkata, "Andaikata engkau mau berjalan membawa makanannya dan meletakannya di dalam biliknya, tentu pahalamu semakin besar." Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga dia mau berjalan membawa makanannya dan meletakkannya di dalam bilik sang gadis. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.

Iblis menyuruh ahli ibadah kepada kebaikan dan menganjurkannya, seraya berkata, "Andaikata engkau mau berbicara dan mengobrol dengannya, tentu engkau akan bisa menjaganya, karena dia bisa saja dimangsa binatang buas." Iblis senantiasa membujuknya, hingga ahli ibadah itu mau berbincang bincang dengan sang gadis dari atas lantai di atas biaranya hingga beberapa lama.

Setelah itu Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata membujuknya, "Andaikata engkau mau turun ke biliknya, duduk di depan pintu biaramu dan mengajaknya berbincang bincang denganmu, tentu hal itu lebih dia sukai." Iblis senantiasa membujuknya hingga ahli ibadah mau duduk di depan pintu biaranya dan keduanya berbincang bincang. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.

Iblis mendatangi ahli ibadah dan mengajurkan sesuatu yang selayaknya ia lakukan. Iblis berkata, "Andaikata engkau keluar dari biaramu dan duduk di dekat pintu biliknya, lalu engkau berbincang bincang dengannya, tentu lebih menyenangkan hatinya. Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga akhirnya dia benar-benar melaksanakannya. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.

Iblis mendatangi ahli ibadah lagi dan memberinya anjuran tentang pahala yang akan diperolehnya di sisi Allah jika dia mau mengerjakannya. Iblis berkata, "Andaikan saja engkau mau keluar dari biaramu dan duduk lebih dekat lagi ke pintu bilik si gadis itu serta berbincang bincang dengannya tanpa perlu keluar dari sana." Ahli ibadah melakukan anjuran Iblis ini dan hal ini berjalan hingga beberapa lama.

Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata, "Andaikata engkau mau masuk ke dalam bilik gadis itu, berbincang bincang dengannya dan tanpa diketahui seorang pun, maka hal ini tentu lebih baik bagimu." Maka sehari penuh ahli ibadah menemani sang gadis di dalam biliknya. Ketika hari sudah senja, dia keluar dan naik ke lantai atas dari biaranya

Iblis mendatangi ahli ibadah dan terus menerus membujuknya, hingga dia berani memegang paha sang gadis dan memeluknya. Iblis terus memperdaya ahli ibadah dengan membisikkan bahwa hal itu merupakan kebaikan, hingga akhirnya dia menyetubuhinya dan gadis itu pun hamil. Ketika tiba saatnya, gadis itu melahirkan seorang bayi. Iblis mendatangi ahli ibadah seraya berkata, "Apa pendapatmu jika saudara saudaranya datang sementara saudari mereka telah melahirkan seorang bayi akibat perbuatanmu? Apa yang hendak engkau lakukan? Tentu saja aku tak berani menjamin dirimu, bahwa nama baiknya akan tercemar, atau mereka akan mencemarkan nama baikmu. Karena itu hampirilah bayi itu, bunuhlah dia, lalu kuburkan mayatnya. Gadis itu akan merahasiakannya karena takut andaikan saudara saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya."

Maka ahli ibadah itu melakukan apa yang dianjurkan Iblis. Lalu Iblis berkata lagi, "Apakah menurut pendapatmu wanita itu akan menyembunyikan kepada saudara saudaranya apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya dan anaknya? Ambillah wanita itu, bunuhlah dia dan kubur bersama anaknya!"

Ahli ibadah benar benar mengikuti anjuran Iblis, membunuh dan mengubur gadis itu bersama anaknya. Dia juga membuat sebuah lubang dan meletakkan sebuah batu besar diatasnya setelah meratakan tanahnya. Setelah itu ia naik ke lantai atas biaranya untuk beribadah disana. Tidak berapa lama berselang seperti yang dikehendaki Allah, saudara saudara sang gadis datang dari peperangan, lalu mereka mendatangi biara dan menanyakan saudari mereka. Ahli ibadah menangis dan menunjukkan belas kasihannya terhadap saudari mereka seraya berkata, "Dia adalah seorang wanita yang paling baik. Itu adalah kuburannya. Lihatlah!"

Mereka mendatangi kuburan saudari mereka dan menangis disana sebagai luapan kasih sayang mereka. Beberapa hari mereka berada di kuburan itu lalu mereka pulang ke rumah.

Pada malam harinya dan setelah mereka tidur, setan mendatangi mereka lewat mimpi. Setan muncul dalam rupa seorang musafir. Pertama kali ia datang dalam mimpi salah seorang di antara mereka yang paling tua. Setan bertanya tentang nasib saudarinya. Orang itu menjawab seperti apa yang dikatakan ahli ibadah, bagaimana kematiannya dan bagaimana kasih sayang yang ditunjukkannya terhadap saudarinya itu. Bahkan ahli ibadah itu juga menunjukkan kuburannya. Namun setan menyangkal semua itu seraya berkata, "Ahli ibadah itu tidak berkata jujur tentang saudari kalian. Saudari kalian itu telah hamil dan melahirkan bayi karena perbuatan ahli ibadah, lalu dia membunuh saudari kalian dan menguburnya di balik pintu sebelah kanan di bilik yang ditempati saudari kalian. Pergilah kesana dan buktikan sendiri, tentu kalian akan mendapatkan apa yang kukatakan ini."

Lalu Iblis mendatangi dua saudaranya yang lain dan mengatakan hal yang sama. Ketika sudah bangun mereka merasa heran dengan mimpi yang mereka alami dan mereka semakin heran ketika mereka memberi tahu tentang mimpi mereka masing masing.

"Ini hanya sekedar mimpi, kalian tak perlu memperdulikannya" kata yang paling tua .

Yang paling muda berkata, "Demi Allah aku tidak akan surut sebelum mendatangi tempat itu dan memeriksanya."

Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mendatangi bilik yang dulu ditempati saudarinya. Mereka membuka pintu dan mencari cari tempat seperti yang diberitahukan kepada mereka lewat mimpi. Ternyata benar, saudari mereka dan anaknya terkubur di tempat itu. Mereka menemui ahli ibadah dan menanyakan tentang nasib saudari mereka dan tak ada pilihan lain bagi ahli ibadah selain mengakuinya karena godaan setan. Mereka pun menurunkan ahli ibadah dari biaranya dan siap untuk di salib. Tatkala ahli ibadah itu sedang diikat di papan, setan menemuinya seraya berkata, "Tentunya engkau sudah tahu bahwa sebenarnya akulah yang telah menggodamu dengan kehadiran wanita itu, lalu engkau membuatnya hamil, lalu engkau membunuhnya dan anaknya. Jika pada saat ini engkau tunduk kepadaku dan kufur kepada Allah yang telah menciptakanmu dan membentuk dirimu, tentu engkau akan selamat dari keadaan yang akan menimpamu ini.."

Maka ahli ibadah itu menyatakan kufur kepada Allah. Namun kemudian setan meninggalkannya begitu saja dan membiarkan orang orang menyalibnya. Karena peristiwa inilah Allah menurunkan ayat, surah Al Hasyr : 16.

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam'."

Sungguh benar perkataan Al Haasan bin Shalih yang mengatakan "Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi seorang hamba, untuk tujuan membuka satu pintu keburukan."

Nabi shalallahu 'alayhi wasallam bersabda:

"Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki laki (melainkan fitnah yang datang dari) wanita." Dikeluarkan oleh Bukhari (9/5096); Muslim (4/2097), Ibnu Majah (3998) dan At-Tirmidzi (2780) dan dia berkata: "Hadits Hasan Shahih"

https://www.facebook.com/wargaKBGD/posts/10151141595880690

Senin, Juni 04, 2012

Penabuh Rebana Yang Sudah Uzur


Di akhir sebuah perjamuan Sufi, sang Syekh dan pelayan terpilihnya, al-Hasan, berdiri di pintu seperti biasanya, mengucapkan salam perpisahan kepada mereka yang berlalu. Al-Hasan sedang asyik memikirkan jumlah uang yang bisa dia peroleh dan merasa khawatir bahwa dia tidak bisa mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu. Di dalam hatinya dia berharap sang Syekh akan memberinya saran.

Al-Hasan tengah terbawa lamunannya ketika dia mendengar Abu Sa’id berkata, “Lihat, ada orang datang. Pergilah, dan lihat apa yang bisa kau perbuat untuknya.” Ternyata orang itu adalah seorang wanita yang sudah uzur, yang kemudian dibawa al-Hasan masuk ditawari teh. Wanita itu kemudian memberi al-Hasan satu tas penuh koin emas untuk diberikan kepada sang Syekh sebagai penukar doa bagi jiwanya.

Senang dengan pikiran bahwa uang itu akan membantu membebaskan dari utang, al-Hasan membawa uang itu kepada Abu Sa’id. Tetapi, ternyata Abu Sa’id menggunakannya untuk tujuan lain. Abu Sa’id meminta al-Hasan untuk pergi ke pekuburan kota. Di sana, di salah satu sudut satu-satunya bangunan, al-Hasan membangunkan lelaki itu, menyampaikan salam dari sang Syekh dan memberikan koin emas kepadanya. Al-Hasan melakukannya sesuai perintah Abu Sa’id. Ketika dia memberikan koin itu, lelaki tua itu menangis dan meminta al-Hasan untuk membawanya kembali kepada Abu Sa’id.

Lelaki renta bercerita kepada al-Hasan, “Aku adalah seorang penabuh rebana. Ketika muda, aku begitu populer dan setiap orang menyukai musikku. Orang-orang biasanya membayarku dengan baik, dan secara teratur aku diundanng ke setiap perayaan dan perjamuan. Bagitu aku tua, kepopuleranku merosot, dan akhirnya tidak seorangpun yang menginginkanku. Aku diusir oleh keluargaku sendiri dari rumahku. Sejak tadi malam aku disini, merasai lelah, lapar dan sebenggol-benggol rasa sedih. Aku datang ke pekuburan ini, dan sekarang menjadi pengemis agar bisa makan. Aku tidak punya siapapun untuk berpaling kecuali Tuhan. Aku terisak dan berdoa serta bercerita pada-Nya bahwa tidak seorangpun menginginkan musikku. Aku bermain musik, menyanyi, dan menangis sepanjang malam, berharap Dia akan membayarku hingga akhirnya aku tertidur menjelang fajar. Dan sekarang, engkau memberikan satu tas penuh uang.”

Al-Hasan membawa mantan penabuh rebana itu ke khanaqah. Begitu melihat Abu Sa’id, lelaki itu bersujud di kaki sang Syech, dia memuji Tuhan dan meminta Abu Sa’id mendoakan jiwanya. Abu Sa’id memperlakukan lelaki renta itu dengan sangat baik, dan kemudian dia berkata kepada al-Hasan, “Tidak seorangpun akan tersesat jika dia percaya kepada Tuhan. Sama halnya seperti uang yang telah disediakan untuk lelaki itu, untukmu juga akan tersedia.”

Catatan :
Seorang sufi mengatakan aku tenang karena aku yakin rejekiku tidak akan tertukar. Sang sufi benar-benar yakin bahwa Allah swt telah mengatur segalanya dan segala seuatu yang sudah ditakdirkan kepada seorang manusia pasti akan datang dan terjadi. Sehingga dia terus beribadah kepada Nya, mengingat Nya  disetiap waktu, dalam segala situasi dan kondisi, dengan khusyu tanpa takut tidak mendapatkan bagian rejeki didunia ini. “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kamu mengingkari nikmat-Ku (Qs- Al-Baqarah;152).

Sumber :
Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamina, "Para Sufi Agung : Kisah dan Legenda",Terjemahan dari : "Tales from the Land of the Sufis", Pustaka Sufi, Jogjakarta, 2003, hal 58-59.

Begitu Cepat Berlalu


Seorang Sufi yang telah mengembara jauh dan dengan susah payahnya melewati gurun, akhirnya tiba di sebuah perkampungan. Desa itu disebut bukit berpasir, daerahnya kering dan panas. Kecuali rerumputan yang mencukupi ternak mereka dan semak-semak, tanaman kehijauan amatlah langka di situ. Ternak adalah harta utama mereka. Bukit berpasir; seandainya kondisi tanahnya berbeda, mungkin mereka juga dapat bercocok tanam. Sang Sufi dengan sopan menyapa orang yang berpapasan dengannya, lalu menanyakan apa ada tempat di mana dia bisa mendapatkan sekerat makanan dan menginap selama semalam. “Baiklah,” kata orang itu, mengusap kepalanya, “kami tidak punya tempat semacam itu di desa ini. Tetapi aku yakin Syakir dapat membantumu.” Kemudian orang itu menunjukkan arah untuk menuju peternakan Syakir, orang yang namanya berarti: “orang yang terus-menerus bersyukur kepada Allah”.

Dalam perjalanan menuju peternakan tersebut, sang Sufi menghampiri sekelompok orang tua yang sedang menyedot pipanya, dan menanyakan kebenaran arah yang ditujunya. Dari mereka, Sufi tersebut mengetahui bahwa Syakir memiliki lebih dari seribu ternak,-“Dan lebih dari kekayaan Haddad, yang tinggal di desa tetangga.”

Tak berapa lama kemudian, sang Sufi sudah berdiri di depan rumah Syakir, dan terkagum-kagum. Ternyata, Syakir adalah orang yang sangat ramah dan baik. Dia memaksa Sufi agar sudi tinggal di rumahnya selama dua hari. Isteri dan anak Syakir juga tidak kalah baik dan ramahnya. Mereka menerima sang Sufi apa adanya dan menyediakan yang terbaik untuknya. Di akhir kunjungan, mereka bahkan membekali dengan makanan yang banyak dan air untuk di perjalanannya.

Di dalam perjalanannya kembali ke gurun, sang Sufi terus memikirkan maksud ucapan terakhir Syakir pada saat mereka berpisah. Waktu itu sang Sufi berkata, “Alhamdulillah, engkau begitu baik.”

“Tetapi, Sufi,” Syakir menjawab, “jangan tertipu penampilan, karena ini akan terlalu cepat berlalu.”

Selama tahun-tahun yang dia lewati di jalan Sufi, sang Sufi telah memahami bahwa apa pun yang dia lihat atau dia dengar di dalam perjalanannya, memberikan cukup bahan untuk dipelajari, dan karena itu memberikan sebentuk ketakafuran yang berharga. Sebenarnya, karena alasan inilah dia mengembara-untuk belajar lebih dalam lagi. Ucapan Syakir melekat di benaknya, dan dia tidak yakin bahwa dia memahami maknanya sepenuhnya.

Dia duduk di bawah bayangan sebuah pohon untuk berdoa dan bertafakur. Latihan Sufinya mengajarkan agar dia tetap tenang dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan, karena pada akhirnya dia akan menemukan jawaban. Dia diajari untuk diam dan tidak bertanya; bila tiba saatnya untuk diberi penerangan, saat itu akan datang. Oleh karena itu, dia menutup pintu pikirannya dan tenggelam dalam renungannya.

Begitulah, dia meneruskan pengembaraannya ke pelbagai tempat selama lima tahun, bertemu dengan orang-orang baru, dan belajar dari pengalaman yang diperolehnya di jalan. Setiap petualangan menawarkan pelajaran baru. Sementara itu, sebagaimana kebiasaan Sufi, dia terus berusaha untuk tetap tenang, berkonsentrasi pada kata hatinya.

Suatu hari, sang Sufi menemukan dirinya kembali ke desa Bukit Berpasir, desa yang pernah disinggahinya beberapa tahun yang lalu. Dia ingat kembali kepada sahabatnya Syakir, kemudian menanyakannya pada orang yang ditemuinya. “Dia tinggal di desa tetangga, sepuluh mil dari sini. Sekarang dia bekerja pada Haddad, “Jawab penduduk desa itu. Sang Sufi terkejut, teringat kembali bahwa Haddad juga orang kaya di wilayah tersebut. Gembira karena akan kembali bertemu dengan Syakir, dia bergegas menuju desa tetangga.

Di rumah Haddad yang megah, sang Sufi disambut oleh Syakir, yang terlihat jauh lebih tua dan mengenakan pakaian yang jelek. “Apa yang telah terjadi padamu?” Tanya Sufi ingin tahu. Syakir menjawab bahwa tiga tahun sebelumnya datang banjir yang menghabiskan seluruh ternak dan rumahnya. Oleh karena itu dia dan keluarganya kemudian menjadi pelayan Haddad, yang selamat dari bencana itu dan sekarang menikmati status sebagai orang terkaya di wilayah itu. Meski demikian, hal tersebut tidak mengubah keramahan dan kebaikan Syakir dan keluarganya. Mereka dengan ramah mempersilahkan sang Sufi untuk tinggal di pondok mereka selama dua hari, dan memberi bekal air dan makanan ketika Sufi itu akan pergi.

Sewaktu pamitan, sang Sufi berkata, “Aku menyesali apa yang terjadi padamu dan keluargamu. Aku tahu Tuhan memiliki alasan atas segala yang Dia lakukan.”

“Oh, tapi ingatlah, ini akan cepat berlalu.”

Ucapan Syakir terus berdengung di telinga sang Sufi. Wajah Syakir yang tersenyum dan tenang tidak pernah melenyap dari benaknya. “Apa maksudnya berkata begitu pada saat ini?” Sang Sufi sekarang tahu bahwa ucapan terakhir Syakir pada kunjungan pertamanya adalah untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi. Tetapi saat ini, sang Sufi bertanya-tanya, apakah  ucapan itu merupakan pernyataan yang optimistik. Jadi, sang Sufi membiarkannya, menanti jawaban yang akan muncul.

Bulan berganti tahun, sang Sufi terus mengembara tanpa kenal lelah. Anehnya, perjalanannya selalu membawanya kembali ke desa di mana Syakir berada. Kali ini, perlu waktu tujuh tahun sebelum akhirnya dia kembali ke desa Bukit Berpasir. Dan Syakir sudah menjadi kaya kembali. Syakir tinggal di rumah utama yang dulu didiami Haddad. “Haddad meninggal dunia dua tahun yang lalu,” Syakir menjelaskan, “dan karena dia tidak mempunyai ahli waris, dia memutuskan untuk mewariskan seluruh kekayaannya kepadaku sebagai penghargaan atas pelayananku yang setia.”

Di akhir kunjungan, sang Sufi mempersiapkan diri untuk perjalanan terbesarnya: dia akan menunaikan ibadah haji ke Makkah, menyeberangi Saudi Arabia dengan berjalan kaki, tradisi Sufi yang sudah berjalan sejak lama. Perpisahannya dengan Syakir tidak berbeda dengan sebelumnya. Syakir kembali berkata, “Semua ini akan cepat berlalu.”

Setelah berangkat haji, sang Sufi berkelana ke India. Dalam perjalanan pulangnya ke Persia, dia memutuskan untuk mengunjungi Syakir lagi, untuk melihat apa yang sudah terjadi. Maka sang Sufi pun kembali ke desa Bukit Berpasir. Ttapi, bukannya Syakir yang dia temukan, melainkan nisan sederhananya yang bertuliskan “Ini semua akan cepat berlalu”. Dan Sufi lebih heran lagi melihat tulisan itu. “Kekayaan datang dan pergi,” pikir sang Sufi, “tetapi bagaimana sebuah makam bisa berubah?”

Sejak saat itu, sang Sufi memutuskan untuk mengunjungi makam sahabatnya tersebut setiap tahun. Dia menghabiskan waktu berjam-jam bertafakur di tempat itu setiap kali berkunjung. Suatu ketika, dia menemukan  pemakamanan dan nisan Syakir telah hilang terbawa air bah. Sekarang sang Sufi yang sudah tua itu kehilangan jejak satu-satunya dari orang yang telah memberinya pengalaman hidup yang istimewa. Sang Sufi diam tunduk menatap tanahdi reruntuhan pemakaman itu selama berjam-jam. Akhirnya dia mengangkat kepalanya, memandang kearah langit. Kemudian, seolah menemukan makna yang lebih besar, dia menganggukkan kepalanya dan berkata, “Begitu cepatnya semua ini berlalu.”

Ketika sang Sufi bertambah tua dan tidak sanggup lagi melakukan perjalanan, dia memutuskan untuk tinggal dan hidup dengan damai dan tenang.

Tahun demi tahun berlalu, sang Sufi menghabiskan waktunya dengan membantu orang-orang yang datang kepadanya untuk meminta nasihat, dan pelbagai pengalaman dengan orang-orang yang lebih muda darinya. Banyak orang datang dari mana-mana untuk memanfaatkan kearifannya. Ketenarannya akhirnya didengar oleh penasihat raja, yang pada saat itu sedang mencari orang yang bijaksana.

Sang raja meminta dibuatkan cincin. Cincin tersebut harus istimewa; cincin tersebut harus memiliki tulisan yang dapat membuat raja merasa senang ketika dia sedih; dan ketika dia bahagia, dengan melihat cincin itu, dia akan merasa sedih.

Ahli-ahli perhiasan  terbaik telah didatangkan, dan banyak orang baik wanita maupun laki-laki yang diminta saran, tetapi tidak satu pun hasilnya yang disukai raja. Maka sang penasihat raja pun menulis surat kepada sang Sufi, menjelaskan situasinya, memohon bantuan sang Sufi dan mengundangnya untuk datang ke istana. Tanpa meninggalkan rumahnya, sang Sufi mengirimkan jawaban.

Beberapa hari kemudian, sebuah cincin jamrud pun dibuat dan dipersembahkan kepada sang raja. Raja yang telah berhari-hari murung, dengan malas mengenakan cincin tersebut di jarinya, dan menatapnya dengan pandangan kecewa. Tetapi, dia lalu tersenyum, dan tak lama kemudian dia tertawa keras. Pada cincin itu tertulis “Ini terlalu cepat berlalu.”



Sumber :

Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia, "Para Sufi Agung : Kisah dan Legenda",Terjemahan dari : "Tales from the Land of the Sufis", Pustaka Sufi, Jogjakarta, 2003, hal 87-91.

Kisah Tentang Ke-Maha Adil-an Tuhan


Suatu saat Nabi Musa a.s. bermunajat kepada Allah di bukit Thursina. Di antara munajat yang dilantunkannya adalah, “Ya Allah, tunjukkanlah keadilan-Mu kepadaku!” Allah berkata kepadanya, “Jika saya menampakkan keadilan-Ku kepadamu, engkau tidak akan dapat sabar dan tergesa-gesa menyalahkan-Ku.”

“Dengan taufik-Mu, “kata Musa a.s., “aku akan dapat bersabar menerima dan menyaksikan keadilan engkau". Kemudian Allah berkata "Pergialah ke mata air anu! Bersembunyilah engkau di dekatnya dan saksikan apa yang akan terjadi.!”.

Musa pergi ke mata air yang ditunjukkan kepadanya. Dia naik ke atas sebuah bukit dan bersembunyi . tidak lama kemudian datanglah seorang penunggang kuda. Dia turun dari kudanya, lalu wudhu, dan meminum air. Setelah itu dia shalat dan meletakkan sebuah kantong di pinggirnya yang berisi uang seribu dinar.

Setelah selesai melakukan shalat, penunggang kuda tadi bergegas pergi dan sangat terburu-buru sehingga dia lupa terhadap kantongnya. Tidak lama kemudian datang seorang anak kecil untuk meminum air dari mata air itu. Ia melihat ada sebuah kantong lalu mengambilnya dan langsung pergi.

Setelah anak kecil pergi, datang seorang kakek yang buta. Ia mengambil air untuk di minum lalu wudhu dan shalat. Setelah si kakek selesai melakukan shalat, dating penunggang kuda yang ketinggalan kantongnya itu. Dia menemukan kakek buta itu sedang berdiri dan akan segera beranjak dari tempatnya. Si penunggang kuda bertanya, “Kamu pasti mengambil kantongku yang berisi uang disini.” Betapa kagetnya si kakek buta itu. Ia berkata, “Bagaimana saya dapat mengambil kantongmu sementara mataku tidak dapat melihat?” Penunggang kuda itu berkata, “Kamu jangan berdusta! Sebab, tidak ada orang lain selain kamu” Si kakek buta berkata, “Betul, saya berada disini sendirian. Namun, kamukan tahu mataku tidak dapat melihat.” Si penunggang kuda berkata, “Mengambil kantong itu tidak harus dengan mata, dungu! Tetapi dengan tangan! Walaupun mata kamu tidak melotot, tanganmu tetap dapat digunakan.

Akhirnya , si kakek buta itu dibunuh oleh penunggang kuda. Setelah si kakek buta dibunuh, Ia menggeledahnya untuk menemukan kantongnya. Namun, ia tidak menemukannya. Maka, ia pergi meninggalkan mayat kakek buta tersebut.

Ketika Musa a.s. melihat kejadian tersebut, dia berkata, “Ya Tuhan, sungguh saya tidak sabar atas kejadian itu. Namun, saya yakin Engkau sangat adil. Kenapa kejadian mengenaskan itu bisa terjadi?”

Tidak lama kemudian datanglah malaikat Jibril dan berkata, “Allah memerintahkan kepadaku agar menyampaikan penjelasan-Nya kepadamu. Dia menyebutkan bahwa diri-Nya sangat mengetahui hal-hal gaib yang tidak engkau ketahui. Dia menyebutkan bahwa anak kecil yang mengambil kantong adalah mengambil haknya. Dulu, ayahnya pernah bekerja di si penunggang kuda itu namun ia tidak bayar secara zalim. Jumlah yang harus dibayarkan kepada ayah anak itu adalah sejumlah uang yang ada dalam kantong itu. Adapun kakek buta adalah yang membunuh ayah anak kecil itu sebelum mengalami kebutaan.”

Sumber : Buku : "Menggapai Hikmah dari Kisah"  (Kumpulan Kisah dari Buku Imam Al - Ghazali), pengumpul : Isyan Basya, Hasyimi, Januari 2005.

Kamis, Maret 01, 2012

Imam Ghazali dan Perampok


Siapa yang tidak kenal dengan Imam Al Ghazali ? Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali. Gelarnya adalah Hujjatul Islam Zainudin Ath-Thusi. Ketika kaum muslimin tengah di landa keraguan dan saling curiga ,pada tahun 450 H bertepatan dengan tahun 1057 M. Di desa Ghazalah kota Thus, sebuah daerah yang berbatasan dengan Mashad di IRAN,lahirnya seorang anak yang dikemudian hari akan tumbuh menjadi seorang imam besar yang dapat menautkan kembali segala perpecahan diantara umat Islam dan mempersatukan mereka. Dialah Al-Ghazali.


Abu Hamid ibnu Muhammad ibnu Ahmad, atau Imam Ghazali, lahir di Khurasan, Iran, pada tahun 1058M/450H. Karya masterpiece-nya Ihya Ulumuddin, menjadi bacaan wajib bagi orang-orang yang ingin belajar tasawuf. Ia lahir dalam keluarga yang sangat taat beragama. Ayahnya adalah seorang pemintal Wool berasal dari desa Ghazalah. Nama desa inilah yang kelak menjadi nama sebutan bagi anaknya, Abu Hamid, yaitu Ghazali.


Ia adalah seorang hamba pilihan yang merupakan salah satu bagian dari kebajikan yang di hamparkan Allah SWT di muka bumi ini. Ia ibarat sebuah pelita yang menerangi dunia islam yang saat itu mulai pudar. Dengan semakin berkembangnya cara berpikir manusia, umat islam menjadi terpecah belah dan dalam agama islam berkembang berbagai macam aliran. Melalui Imam Ghazali Allah SWT menyatukan lagi umat islam dalam satu wadah kepercayaan mutlak terhadap sang Maha Pencipta.



Beliau mendapat nama sebutan Al-Ghazali sesuai dengan nama tempat kelahirannya yaitu Ghazalah. Ia lahir di tengah keluarga yang taat beragama. Ayahnya seorang shalih dan senang bersedekah. Ia tidak makan kecuali dari hasil usahanya sendiri. Mata pencahariannya adalah memintal bulu domba dan menjualnya di toko.



Pada masa itu, lebih kurang pada abad kelima hijriah, Naishabur (daerah yang tidak jauh dari Thus) merupakan pusat ilmu pengetahuan di kawasan tersebut. Biasanya, penduduk sekitar Thus akan pergi menuntut ilmu di Naishabur, tak terkecuali Al-Ghazali. Ia pergi ke Naishabur dan Gurgan.



Dengan semangat yang tinggi, bertahun-tahun ia belajar kepada ulama-ulama dan orangorang bijak setempat. Untuk menjaga ilmu pengetahuan yang diperolehnya, Al Ghazali sangat rajin mencatat setiap yang didapat dari guru-gurunya. Ia sangat mencintai jerih payahnya ini, bagaikan dirinya sendiri.



Dan setelah bertahun-tahun belajar, akhirnya Al-Ghazali berencana untuk pulang ke kampung halamannya. Al-Ghazali menyusun dan mengumpulkan catatan-catatannya, lalu ikut kafilah yang akan pergi ke kampungnya. Ditengah jalan, kafilah itu dihadang oleh segorombolan perampok. Mereka mengambil setiap barang yang dijumpai.



Pada giliran barang-barang bawaan Al-Ghazali, ia berkata kepada perampok tersebut,



“Kalian boleh ambil semua barang-barangku, tapi tolong jangan kalian ambil yang satu ini.”

Gerombolan perampok tersebut menduga bahwa pasti itu adalah barang-barang yang bernilai. Secepat kilat mereka merebut dan membukanya. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali setumpukan kertas-kertas yang hitam.



Hai anak muda, apa ini? Untuk apa kau menyimpannya? tanya para perampok itu.



Itulah barang-barang yang tidak akan berguna bagi kalian, tapi berguna bagiku,” jawab Al-Ghazali.

Apa gunanya?”



Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun,” jawab Al-ghazali. Jika kalian merampasnya dariku, maka ilmuku akan habis, dan usahaku yang bertahun-tahun itu akan sia-sia. “



mengapa engkau begitu ingin melindungi buku itu?” tanya sang pemimpin perampok.



karena buku ini adalah buku satu-satunya yang mencatat sebuah ilmu yang sangat penting…” jawab Al-Ghazali.



Hanya yang ada dalam lembaran-lembaran inikah ilmumu?” tanya salah seorang perampok

Ya, jawab Al-Ghazali.



Perampok itu melanjutkan, “Bagaimana menurutmu seandainya semua buku pelajaranmu ini ku ambil? maka sudah pasti kamu berpikir bahwa kamu akan menjadi orang bodoh. Karena kamu masih mengandalkan buku dan catatan. Pelajaran seharusnya di simpan di kepala bukan di dalam buku. Kalau memang begitu penting, mengapa tidak kau ajari orang lain tentang ilmu tersebut? bukankah kalau buku ini terbakar habis, maka hilanglah ilmu yang kau anggap penting itu? Ketahuilah wahai anak muda, Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan yang dapat dicuri, sebenarnya bukanlah ilmu. Pikirkanlah nasib dirimu baik-baik.”



Kemudian para perampok itu pergi meninggalkan Al-Ghazali yang sedang memunguti kitab-kitab dan buku catatannya sambil merenungi cemoohan kepala perampok tersebut.



Ucapan sederhana yang keluar dari mulut perampok tersebut, betul-betul mengguncang jiwa dan kesadaran Al-Ghazali. Ia yang sampai saat itu masih berfikir untuk sekedar mengikut ustadnya dan mencatat ilmunya di buku-buku tulis saja, seketika berubah pikiran, yakni berusaha melatih otaknya lebih banyak, mengkaji dan menganalisa, lalu menyimpan ilmu-ilmu yang bermanfaat itu dibuku otaknya”.



Semua ucapan perampok tersebut yang nadanya mencemooh bagi Al-Ghazali justru merupakan nasehat penting dan hikmah serta berkah yang tak ternilai harganya.



Sejak peristiwa itu Al-Ghazali semakin rajin menghafal. Satu persatu pelajaran yang asalnya merupakan tulisan kini telah pindah dan tertanam dalam otak dan hati sanubari Al-Ghazali.



Al-Ghazali berkata, “Sebaik-baik nasehat yang membimbing kehidupan intelektualitasku adalah nasehat yang kudengar dari mulut seorang perampok.”

http://groups.yahoo.com/group/huttaqi/message/3646

Selasa, Januari 24, 2012

Kisah Sedekah Yang Salah Alamat


Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

“Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

“Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

“Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha¬nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/09/kisah-sedekah-yang-salah-alamat.html

Selasa, Desember 20, 2011

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.
Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .
“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid
http://jogjakini.wordpress.com/2011/12/09/kisah-nyata-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang-di-pekalongan/

Rabu, Oktober 05, 2011

Ilmu atau Harta ?


Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Membaca Al Qur’an itu amal orang-orang yang di lindungi, Shalat itu amal orang-orang yang tak berdaya, puasa itu amal orang miskin, tasbih itu amal orang perempuan, sedekah itu amal orang yng murah hati. Dan tafakkur itu orang yang lemah. Maukah Ku tunjukkan kepada kalian amal para pahlawan?” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah amal pahlawan itu?”

Beliau Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Mereka menuntut ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan di akherat.”

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda, “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.”

Ketika kaum khawarij mendengar hadits diatas, mereka membenci Sayyidina Ali Kw dan berkumpullah sepuluh orang pemuka mereka. Mereka berkata,

“Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana Ali menjawabnya. Seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain, tahulah kita bahwa ia orang alim sebagaimana di katakan oleh Nabi SAW.”

Seorang dari mereka datang kepada Sayyidina Ali dan bertanya, “Hai Ali mana yang lebih baik, ilmu atau harta?”
Sayyidina Ali Kw menjawab,”Ilmu lebih baik daripada harta.”
“Dengan dalil apa?” tanya orang itu.
“Ilmu itu warisan para Nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun, dan lainnya.” jawab Sayyidina Ali. Orang itupun pergi.

Datang lagi yang lainnya, lalu bertanya seperti rekannya yang pertama. Sayyidina Ali Kw menjawab,”Ilmu lebih baik daripada harta.”
“Dengan dalil apa?” tanya orang itu.
Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta.” Kemudian dia juga pergi.

Datang lagi orang yang ketiga, sambil bertanya apa yang di tanyakan teman sebelumnya. Sayyidina Ali Kw menjawab,”Ilmu lebih baik daripada harta.” “Dengan dalil apa?” tanya orang itu.
Sayyidina Ali menjawab, “Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman.” Orang ketiga pergi.

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab, “Apabila kau belanjakan hartamu, ia akan berkurang dan jika kau amalkan ilmu mu ia akan bertambah.” Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Pemilik harta bisa di panggil si pelit dan menjadi hina, sedangkan pemilik ilmu di panggil dengan sebutan agung dan mulia.” Orang tersebut kemudian pergi.

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab, “Pemilik harta akan di hisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat.”

Datang lagi orang yang lainnya, lalu bertanya sebagaimana teman-teman sebelumnya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Harta itu makin lama di diamkan makin bertambah usang, sedangkan ilmu tidak bisa lapuk dan usang.”

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Harta bisa membuat hati menjadi keras, sedang ilmu itu menerangi hati.”

Datang lagi orang yang lain, lalu bertanya, “Mana yang lebih baik, ilmu atau harta?” Sayyidina Ali menjawab, “Ilmu lebih baik daripada harta.”
Orang itu bertanya, “Dengan dalil apa?”
Sayyidina Ali menjawab,”Pemilik harta di katakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedangkan orang yang berilmu mengaku sebagai Hamba Allah.”

“Andaikata mereka bertanya tentang ini, niscaya akan ku jawab dengan jawaban yang lain selama aku masih hidup.” Sayyidina Ali berujar.
Kemudian datanglah semua orang yang mengajukan pertanyaan tadi lalu mereka menyerah dan mengakui kealiman Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Karramallahu Wajhah..

Sumber Kitab Mawa’idul Usfuriyah. Karya Asy Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri.
http://arroudloh.wordpress.com/2010/05/13/lebih-mulya-ilmu-atau-harta-jawaban-sayyidina-ali-bin-abi-thalib-k-w/

Senin, September 26, 2011

Kisah Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit)


Kisah Ashabul Ukhdud dalam Al Qur'an Surah Al-Buruj
Surah al-Buruj bermakna gugusan bintang-bintang, termasuk golongan surah-surah makkiyah. mengandungi 22 ayat 109 kalimat dan 465 huruf.

Ayat 1 - 9
1.Demi langit yang menjadi tempat peredaran bintang.
2.Dan hari yang dijanjikan (iaitu hari kiamat).
3.Dan (demi) yang menjadi saksi dan yang dipersaksikan.
4.Celakalah (orang) yang menggali parit.
5.(Parit) api yang penuh dengan bahan bakarnya.
6.Ketika mereka duduk mengelilinginya.
7.Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang beriman.
8.Dan mereka tiada menyiksa orang-orang yang beriman melainkan kerana mereka (orang beriman) beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Terpuji.
9.(Tuhan) yang menguasai langit dan bumi dan Allah menyaksikan setiap suatu.


Kisah Ashabul Ukhdud dalam Hadist
Shuhaib bin Simaan Arrmmi ra. mengatakan Rasulullah saw. bersabda: Pada masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, oleh itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir"

Lalu raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama. Pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, lalu ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dipukul, lantas ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta. Kemudian diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan. Aku ditahan oleh ahli sihir.

Setelah beberapa lama kemudian itu, pada suatu hari ketika ia akan pergi, tiba-tiba di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang tidak berani jalan di tempat itu, lalu pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu, bunuhlah binatang itu supaya orang dapat melalui di tempat ini". Lalu dilemparkanlah batu itu, dan matilah binatang itu. Orang ramai gembira kerana dapat melalui jalan itu.

Ia memceritakan kejadian itu kepada pendeta, lalu berkatalah pendeta itu kepadanya : Kamu kini telah berat daripadaku, dan kamu akan diuji, jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta, sopak dan pelbagai penyakit yang berat pada semua orang.

Ada seorang besar dalam majlis raja ia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahawa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan beragai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata : "Sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka". Jawab pemuda itu : "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun kerana yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman kepada Allah. Aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu". Lalu ia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh izin Allah.

Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja "Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)". Raja bertanya: "Aku ?". Jawabnya, "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu, iaitu Allah". Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?" Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah". Lalu disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.

Kemudian segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta, sopak dan pelbagai jenis penyakit" Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. Tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Lalu ditangkap dan disisa seberat-beratnya sehingga terpaksa menunjukkan pada pendeta yang mengajarnya. Kemudian dipanggil pendeta dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi ia tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, lalu diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja. Raja memerintahkan supaya di bawa ke puncak gunung dan di sana ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak dilempar dari atas gunung itu. Ketika sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini sehendakMu". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, lalu segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".

Lalu pemuda diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, apabila sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mahu mengubah agama, jika tidak dilemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", lalu tenggelamlah semua orang yang membawanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku, dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu kau ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), lalu lepaskan anak panah itu, dengan itu kau dapat membunuhku".

Semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai dada pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan terus syahid, lalu semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu raja bahawa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini.

Lalu raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya tentang agamanya, jika ia tetap setia pada kita biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkan ia ke dalam parit api itu.

Lalu orang berduyun menduyun masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang mengendong bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka bertukar agama kerana sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah wahai ibuku kerana engkau sedang mempertahankan yang hak". (Hadith riwayat Ahmad, Muslim dan Al-Nasa'i)

Ibnu Abbas berkata bahawa kisah ini berlaku 70 tahun sebelum kelahiran Nabi saw.


http://halaqah.net/v10/index.php?topic=2039.0
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...